Menjadi seorang Mahasiswa STIKES Pacitan di tengah lingkungan masyarakat yang masih menjunjung tinggi tradisi pengobatan alternatif tentu bukan perkara mudah. Di daerah yang masih kental dengan kepercayaan terhadap kekuatan supranatural, para calon tenaga medis ini harus berjuang ekstra keras untuk memberikan pemahaman mengenai kesehatan berbasis sains. Tantangan terbesar yang mereka hadapi bukanlah teori medis di ruang kelas, melainkan bagaimana cara merangkul warga yang lebih memilih datang ke dukun desa daripada ke fasilitas kesehatan saat jatuh sakit.
Sebagai Mahasiswa STIKES Pacitan, mereka diajarkan untuk tidak bersikap konfrontatif terhadap budaya lokal. Sebaliknya, mereka belajar cara melakukan pendekatan humanis melalui komunikasi terapeutik. Stigma bahwa tenaga medis hanya mengandalkan obat-obatan kimia yang mahal seringkali menjadi penghalang utama dalam edukasi kesehatan. Oleh karena itu, para mahasiswa ini sering terjun langsung ke desa-desa untuk melakukan sosialisasi, menjelaskan bahwa medis dan tradisi tidak selalu harus bertentangan, namun keamanan pasien tetap menjadi prioritas yang utama.
Perjuangan Mahasiswa STIKES Pacitan dalam meluruskan stigma ini sangat krusial, terutama pada kasus-kasus darurat seperti persalinan atau infeksi berat. Masih ada warga yang menganggap bahwa penyakit tertentu merupakan kiriman mistis yang hanya bisa disembuhkan oleh orang pintar di desa. Di sinilah peran mahasiswa untuk menunjukkan bukti nyata bahwa penanganan medis yang steril dan terukur dapat menyelamatkan nyawa dengan lebih pasti. Mereka berusaha menjadi jembatan informasi agar masyarakat tidak terlambat mendapatkan pertolongan medis hanya karena terjebak dalam mitos yang keliru.
Di dalam kampus, kurikulum yang diterima oleh Mahasiswa STIKES Pacitan juga menekankan pentingnya sosiologi kesehatan. Mereka dibekali kemampuan untuk memahami struktur sosial masyarakat agar mampu menyisipkan pesan kesehatan tanpa menyinggung perasaan tokoh adat. Dengan dedikasi yang tinggi, perlahan namun pasti, kehadiran mereka mulai diterima. Warga mulai menyadari bahwa gejala penyakit dapat dijelaskan secara ilmiah dan penanganan yang cepat di puskesmas atau rumah sakit adalah langkah yang paling bijak untuk diambil demi kesembuhan yang optimal.
Melalui program pengabdian masyarakat, Mahasiswa STIKES Pacitan membuktikan bahwa mereka adalah agen perubahan yang tangguh. Meskipun proses mengubah pola pikir membutuhkan waktu bertahun-tahun, konsistensi mereka dalam memberikan pelayanan kesehatan gratis dan edukasi door-to-door mulai membuahkan hasil. Stigma terhadap dukun desa tidak hilang sepenuhnya, namun masyarakat kini jauh lebih terbuka untuk memeriksakan diri secara medis. Inilah esensi dari perjuangan mahasiswa kesehatan di daerah, yakni memadukan ilmu pengetahuan dengan empati di tengah keragaman budaya yang ada.
