Pada tahap akhir, sifilis yang tidak diobati dapat menyebabkan kerusakan kulit dan membran mukosa yang parah, ditandai dengan munculnya lesi yang disebut gumma. Ini adalah benjolan besar yang bukan hanya muncul di kulit, tetapi juga bisa menyerang tulang atau organ internal. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang signifikan dan seringkali meninggalkan bekas luka permanen, menunjukkan keganasan sifilis jika dibiarkan tanpa penanganan.
Gumma adalah karakteristik sifilis tersier, tahap paling lanjut dari infeksi. Lesi ini terbentuk dari sel-sel imun yang berkumpul sebagai respons terhadap bakteri sifilis. Di kulit, gumma bisa berupa nodul yang membesar, ulserasi, atau luka terbuka yang sulit sembuh, menyebabkan kerusakan kulit yang terlihat dan seringkali nyeri, serta dapat menjadi pintu masuk infeksi sekunder.
Selain kerusakan kulit, gumma juga sangat berbahaya karena dapat menyerang organ internal. Misalnya, gumma yang terbentuk di hati dapat mengganggu fungsi organ vital ini, menyebabkan gejala seperti nyeri perut, demam, atau pembesakan hati. Jika tidak diobati, gumma hati dapat memicu sirosis atau bahkan gagal hati, mengancam jiwa penderita.
Di paru-paru, gumma dapat menyebabkan lesi yang mirip dengan tumor paru-paru, menimbulkan gejala seperti batuk kronis, sesak napas, dan nyeri dada. Diagnosanya seringkali menantang karena kemiripannya dengan kondisi lain. Kerusakan kulit dan organ dalam akibat gumma menunjukkan betapa sistemiknya dampak sifilis tahap lanjut.
Pada sistem tulang, gumma dapat menyebabkan kerusakan tulang yang signifikan, mengakibatkan rasa sakit kronis dan deformitas. Jika menyerang sendi, bisa memicu artritis yang parah. Kemampuan gumma untuk merusak berbagai organ internal dan jaringan lain, dari kulit hingga tulang, membuatnya menjadi komplikasi yang sangat serius dan berbahaya.
Diagnosis gumma memerlukan pemeriksaan fisik menyeluruh, tes darah untuk sifilis, dan terkadang biopsi jaringan untuk mengonfirmasi keberadaan lesi. Pencitraan seperti CT scan atau MRI juga mungkin diperlukan untuk mengidentifikasi gumma pada organ internal. Deteksi dini penting untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, meskipun seringkali sulit karena sifatnya yang muncul di tahap akhir.
Pengobatan gumma dan sifilis tersier melibatkan pemberian antibiotik penisilin dosis tinggi, biasanya secara intravena, selama beberapa minggu. Meskipun pengobatan dapat menghentikan perkembangan gumma dan membantu penyembuhan lesi, kerusakan kulit atau jaringan permanen yang sudah terjadi mungkin tidak dapat sepenuhnya diperbaiki, meninggalkan bekas luka fisik dan fungsional.
